Friday, February 28, 2020

MEMBANGUN LITERASI KEBERAGAMAAN

- Advertisement -

Dalam keseharian, sadar atau tidak, kita disuguhi kekerasan dalam beragam bentuk: wacana, ideologi, maupun perilaku. Itu begitu banyak ditemukan di media sosial– utamanya yang bersifat online–. Salah satu bentuk kekerasan itu yang sering tidak disadari adalah kekerasan wacana. Padahal, ia bersifat laten dan erosif. Bisa jadi, kekerasan ini lebih berbahaya dari bahaya komunisme! Kekerasan wacana ini ditandai oleh: kuatnya ideologi keagamaan dalam klaim kebenaran (truth claim) sembari menyudutkan pihak lain. Kekerasan bisa melahirkan kekerasan lanjutan (fisik). Literasi keberagamaan adalah kemampuan masyarakat dalam memahami titik temu fundamental antara agama (Islam) dengan dimensi sosial, budaya dan politik. Masyarakat yang literat dalam keberagamaan ditandai oleh dua hal yakni adanya pemahaman masyarakat atas dasar sejarah, teks sentral, keyakinan, dan manisfestasi praktis agama yang dianut; dan adanya kemampuan memahaminya dalam dimensi sosial, budaya, dan politik agama. Lalu seperti apa upaya membangun Literasi Keberagamaan. Kita akan berdialog dengan Nara Sumber :

Nara Sumber :
Dr. Rijal Firdaus (Dosen UIN Raden Intan Lampung)
Dr. Arif Sugiono (Dosen FISIP Unila)

#radarlampungtv #beritaterkini #beritalampung #infolampung #eventlampung #lampung #radartv #peristiwa #ceritalampung #news #berita

source

- Advertisement -

1 comment

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here